TERAPI PENYEMBUHAN PENYAKIT CINTA


Mukaddimah

Virus hati yang bernama cinta ternyata telah banyak memakan korban. Mungkin
anda pernah mendengar seorang remaja yang nekat bunuh diri disebabkan putus
cinta, atau tertolak cintanya. Atau anda pernah mendengar kisah Qeis yang
tergila-gila kepada Laila. Kisah cinta yang bermula sejak mereka bersama
mengembala domba ketika kecil hingga dewasa. Akhirnya sungguh tragis, Qeis
benar-benar menjadi gila ketika laila dipersunting oleh pria lain. Apakah
anda pernah mengalami
problema seperti ini atau sedang mengalaminya? mau tau terapinya? mari
sama-sama kita simak terapi mujarab yang disampaikan ibn Qoyyim dalam karya
besarnya Zadul Ma’ad.

Beliau berkata: Gejolak cinta adalah jenis penyakit hati yang memerlukan
penanganan khusus disebabkan perbedaannya dengan jenis penyakit lain dari
segi bentuk, sebab maupun terapinya. Jika telah menggerogoti kesucian hati
manusia dan mengakar di dalam hati, sulit bagi para dokter mencarikan obat
penawarnya dan penderitanya sulit disembuhkan.

Allah mengkisahkan penyakit ini di dalam Alquran tentang dua tipe manusia,
pertama wanita dan kedua kaum homoseks yang cinta kepada mardan (anak
laki-laki yang rupawan). Allah mengkisahkan bagaimana penyakit ini telah
menyerang istri Al-Aziz gubernur Mesir yang mencintai Nabi Yusuf, dan
menimpa Kaum Luth. Allah mengkisahkan kedatangan para malaikat ke negeri
Luth

Dan datanglah penduduk kota itu (ke rumah Luth) dengan gembira (karena)
kedatangan tamu-tamu itu. Luth berkata: “Sesungguhnya mereka adalah tamuku;
maka janganlah kamu memberi malu (kepadaku), dan bertakwalah kepada Allah
dan janganlah kamu membuat aku terhina”.Mereka berkata: “Dan bukankah kami
telah melarangmu dari (melindungi) manusia?” Luth berkata: “Inilah
puteri-puteri (negeri) ku (kawinlah dengan mereka), jika kamu hendak berbuat
(secara yang halal)”. (Allah berfirman): “Demi umurmu (Muhammad),
sesungguhnya mereka terombang-ambing di dalam kemabukan (kesesatan)”. Surat
al-Hijr:68/72

Kebohongan Kisah Cinta Nabi dengan Zainab Binti Jahsy

Ada sekelompok orang yang tidak tahu menempatkan kedudukan Rasul sebagaimana
layaknya, beranggapan bahwa Rasulullah tak luput dari penyakit ini sebabnya
yaitu tatkala beliau melihat Zaenab binti Jahsy sambil berkata kagum: Maha
Suci Rabb yang membolak-balik hati, sejak itu Zaenab mendapat tempat khusus
di dalam hati Rasulullah Saw, oleh karena itu Beliau berkata kepada Zaid bin

Haritsah: Tahanlah ia di sisimu hingga Allah menurunkan ayat:

Dan (ingatlah), ketika kamu berkata kepada orang yang Allah telah
melimpahkan ni`mat kepadanya dan kamu (juga) telah memberi ni`mat kepadanya:
“Tahanlah terus isterimu dan bertakwalah kepada Allah”, sedang kamu
menyembunyikan di dalam hatimu apa yang Allah akan menyatakannya, dan kamu
takut kepada manusia, sedang Allah-lah yang lebih berhak untuk kamu takuti.
Maka tatkala Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap isterinya
(menceraikannya), Kami kawinkan kamu dengan dia supaya tidak ada keberatan
bagi orang mu’min untuk (mengawini) isteri-isteri anak-anak angkat mereka,
apabila anak-anak angkat itu telah menyelesaikan keperluannya daripada
isterinya. Dan adalah ketetapan Allah itu pasti terjadi. (al-Ahzab:37)[1]

Sebagain orang beranggapan ayat ini turun berkenaan kisah kasmaran Nabi,
bahkan sebagian penulis mengarang buku khusus mengenai kisah kasmaran para
Nabi dan meyebutkan kisah Nabi ini di dalamnya. Hal ini terjadi akibat
kejahilannya terhadap Alquran dan kedudukan para Rasul, hingga ia memaksakan
kandungan ayat apa-apa yang tidak layak dikandungnya dan menisbatkan kepada
Rasulullah suatu perbuatan yang Allah menjauhkannya dari diri Beliau

Kisah sebenarnya, bahwa zainab binti Jahsy adalah istri Zaid ibn Harisah
.–bekas budak Rasulullah– yang diangkatnya sebagai anak dan dipanggil
dengan Zaid ibn Muhammad. Zainab merasa lebih tinggi dibandingkan Zaid.
Oleh Sebab itu Zaid ingin menceraikannya. Zaid datang menemui Rasulullah
minta saran untuk menceraikannya, maka Rasulullah menasehatinya agar tetap
memegang zainab, sementara Beliau tahu bahwa Zainab akan dinikahinya jika
dicerai Zaid. Beliau takut
akan cemoohan orang jika mengawini wanita bekas istri anak angkatnya. Inilah
yang disembunyikan Nabi dalam dirinya, dan rasa takut inilah yang tejadi
dalam dirinya. Oleh karena itu di dalam ayat Allah menyebutkan karunia yang
dilimpahkanNya kepada Beliau dan tidak mencelanya karena hal tersebut
sambil menasehatinya agar tidak perlu takut kepada manusia dalam hal-hal
yang memang Allah halalkan baginya sebab Allahlah yang seharusnya
ditakutinya. Jangan Sampai beliau takut berbuat sesuatu hal yang Allah
halalkan karena takut gunjingan manusia, setelah itu Allah
memberitahukannya bahwa Allah langsung Yang akan menikahkannya setelah Zaid
menceraikan istrinya agar Beliau menjadi contoh bagi umatnya mengenai
kebolehan menikahi bekas istri anak angkat, adapun menikahi bekas istri anak
kandung maka hal ini terlarang.sebagaimana firman Allah: “Muhammad itu
sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu” (al-Ahzab:
40)

Allah berfirman di pangkal surat ini: “Dan Dia tidak menjadikan anak-anak
angkatmu sebagai anak kandungmu (sendiri). Yang demikian itu hanyalah
perkataanmu di mulutmu saja” (al–Ahzab:4)

Perhatikanlah bagaiamana pembelaan terhadap Rasulullah ini, dan bantahan
terhadap orang-orang yang mencelanya. Wabillahi at-Taufiq.

Tidak dipungkiri bahwa Rasulullah sangat mencintai istri-istrinya. Aisyah
adalah istri yang paling dicintainya, namun kecintaannya kepada Aisyah dan
kepada lainnya tidak dapat menyamai cintanya tertinggi, yakni cinta kepada
Rabbnya. Dalam hadis shahih: “Andaikata aku dibolehkan mengambil seorang
kekasih dari salah seorang penduduk bumi maka aku akan menjadikan Abu Bakar
sebagai kekasih”[2]

Kriteria Manusia yang Berpotensi Terjangkit Penyakit al-isyq

Penyakit al-isyq akan menimpa orang-orang yang hatinya kosong dari rasa
mahbbah (cinta) kepada Allah, selalu berpaling dariNya dan dipenuhi
kecintaan kepada selainNya. Hati yang penuh cinta kepada Allah dan rindu
bertemu dengaanNya pasti akan kebal terhadap serangan virus
ini.sebagaimana yang terjadi dengan Yusuf alaihis salam:

“Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan
Yusuf, dan Yusufpun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu andaikata
dia tiada melihat tanda (dari) Tuhannya. Demikianlah, agar Kami memalingkan
daripadanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk
hamba-hamba Kami yang terpilih” (Yusuf:24)

Nyatalah bahwa Ikhlas merupakan immunisasi manjur yang dapat menolak virus
ini dengan berbagai dampak negatifnya berupa perbuatan jelek dan
keji.Artinya memalingkan seseorang dari kemaksiatan harus dengan menjauhkan
berbagai sarana yang menjurus ke arah itu .

Berkata ulama Salaf: penyakit cinta adalah getaran hati yang kosong dari
segala sesuatu selain apa yang dicinta dan dipujanya. Allah berfirman
mengenai Ibu Nabi Musa:

“Dan menjadi kosonglah hati ibu Musa. Sesungguhnya hampir saja ia menyatakan
rahasia tentang Musa, seandainya tidak Kami teguhkan hatinya” (al-Qasas:11)
yakni kosong dari segala sesuatu kecuali Musa karena sangat cintanya kepada
Musa dan bergantungnya hatinya kepada Musa.

Bagaimana virus ini bisa berjangkit ?

Penyakit al-isyq terjadi dengan dua sebab, pertama: Karena mengganggap indah
apa-apa yang dicintainya. Kedua: perasaan ingin memiliki apa yang
dicintainya. Jika salah satu dari dua faktor ini tiada niscaya virus tidak
akan berjangkit. Walaupun Penyakit kronis ini telah membingungkan banyak
orang dan sebagian pakar berupaya memberikan terapinya, namun solusi yang
diberikan belum mengena.

Makhluk Diciptakan Saling Mencari Yang Sesuai Dengannya

Berkata Ibn al-Qayyim: ketetapan Allah Swt dengan hikmahNya menciptakan
makhlukNya dalam kondisi saling mencari yang sesuai dengannya, secara
fitrrah saling tertarik dengan jenisnya, sebaliknya akan menjauh dari yang
berbeda dengannya.

Rahasia adanya percampuran dan kesesuaian di alam ruh akan mengakibatkan
adanya keserasian serta kesamaan, sebagaimana adanya perbedaan di alam ruh
akan berakibat tidak adanya keserasian dan kesesuaian. Dengan cara inilah
tegaknya urusan manusia. Allah befirman: “Dialah Yang menciptakan kamu dari
diri yang satu dan daripadanya Dia menciptakan isterinya, agar dia merasa
senang kepadanya.” (al-isyq-A’raf :189)

Dalam ayat ini Allah menjadikan sebab perasaan tentram dan senang seorang
lelaki terhadap pasangannya karena berasal dari jenis dan bentuknya.
Jelaslah faktor pendorong cinta tidak bergantung dengan kecantikan rupa, dan
tidak pula karena adanya kesamaan dalam tujuan dan keingginan, kesamaan
bentuk dan dalam mendapat petunjuk, walaupun tidak dipungkiri bahwa hal-hal
ini merupakan salah satu penyebab ketenangan dan timbulnya cinta.

Nabi pernah mengatakan dalam sebuah hadisnya: “Ruh-ruh itu ibarat tentara
yang saling berpasangan, yang saling mengenal sebelumnya akan menyatu dan
yang saling mengingkari akan berselisih “[3]

Dalam Musnad Imam Ahmad diceritakan bahwa asbabul wurud hadis ini yaitu
ketika seorang wanita penduduk Makkah yang selalu membuat orang tertawa
hijrah ke Madinah ternyata dia tinggal dan bergaul dengan wanita yang
sifatnya sama sepertinya yaitu senang membuat orang tertawa. Karena itulah
nabi mengucapkan hadis ini.

Karena itulah Syariat Allah akan menghukumi sesuatu menurut jenisnya,
mustahil syariat menghukumi dua hal yang sama dengan perlakuan perbeda atau
mengumpulkan dua hal yang kontradiktif. Barang siapa yang berpendapat lain
maka jelaslah karena minimnya ilmu pengetahuannya terhadap syariat ini atau
kurang memahami kaedah persamaan dan sebaliknya.

Penerapan kaedah ini tidak saja berlaku di dunia lebih dari itu akan
diterapkan pula di akhirat, Allah berfirman: “(kepada malaikat
diperintahkan): Kumpulkanlah orang-orang yang zalim beserta teman sejawat
mereka dan sembahan-sembahan yang selalu mereka sembah” (as-Saffat:23)

Umar ibn Khtaab dan seteelahnya Imam Ahmad pernah berkata mengenai tafsiran
wajahum yakni yang sesuai dan mirip dengannya .Allah juga berfirman:”Dan
apabila jiwa dipertemukan” (at-Takwir: 7)

Yakni setiap orang akan digiring dengan orang-orang yang sama prilakunya
dengannya, Allah akan menggiring antara orang-orang yang saling mencintai
kareNya di dalam surga dan akan menggiring orang orang yang saling
bekasih-kasihan diatas jalan syetan di neraka Jahim, tiap oran akan digiring
dengan siapa yang dicintainya mau tidak mau. Di dalam mustadrak
al-isyq-Hakim disebukan bahwa Nabi bersabda: “Tidaklah seseorang mencintai
suatu kaum kecuali akan digiring bersama mereka kelak” [4]

Cinta dan Jenis-jenisya

Cinta memiliki berbagai macam jenis dan tingkatan, yang tertinggi dan paling
mulia adalah mahabbatu fillah wa lillah (cinta karena Allah dan di dalam
Agama Allah) yaitu cinta yang mengharuskan mencintai apa-apa yang dicintai
Allah, yang dilakukan berlandaskan cinta kepada Allah dan RasulNya.

Cinta berikutnya adalah cinta yang terjalin karena adanya kesamaan dalam
cara hidup, agama, mazhab, idiologi, hubungan kekeluargaaan, profesi dan
kesamaan dalam hal-hal lainnya.

Diantara jenis cinta lainnya yakni cinta yang motifnya karena inggin
mendapatkan sesuatu dari yang dicintainya, baik dalam bentuk kedudukan,
harta, pengajaran dan bimbingan, ataupun kebutuhan biologis. Cinta yang
didasari hal-hal seperti tadi yaitu al-mahabbah al-‘ardiyah– akan hilang
bersama hilangnya apa-apa yang ingin didapatnya dari orang yang dicintai.
Yakinlah bahwa orang yang mencintaimu karena sesuatu akan meninggalkanmu
ketika dia telah mendapat apa yang diinginkannya darimu.

Adapun cinta lainnya adalah cinta yang berlandaskan adanya kesamaan dan
kesesuaian antara yang menyinta dan yang dicinta. Mahabbah al-isyq
termasukCinta jenis ini tidak akan sirna kecuali jika ada sesuatu yang
menghilangkannya. Cinta jenis ini, yaitu berpadunya ruh dan jiwa, oleh
karena itu tidak terdapat pengaruh yang begitu besar baik beruparasa
was-was, hati yang gundah gula maupun kehancuran kecuali pada cinta jenis
ini.

Timbul pertanyaan bahwa cinta ini merupakan bertemunya ikatan batin dan ruh,
tetapi mengapa ada cinta yang bertepuk sebelah tangan? Bahkan kebanyakan
cinta seperti ini hanya sepihak dari orang yang sedang kasamaran saja, jika
cinta ini perpaduan jiwa dan ruh maka tentulah cinta itu akan terjadi
antara kedua belah pihak bukan sepihak saja?

Jawabnya yaitu bahwa tidak terpenuhinya hasrat disebabkan kurangnya syarat
tertentu, atau adanya penghalang sehingga tidak terealisasinya cinta antara
keduanya. Hal ini disebabkan tiga faktor, pertama: bahwa cinta ini sebatas
cinta karena adanya kepentingan, oleh karena itu tidak mesti keduanya saling
mencintai, terkadang yang dicintai malah lari darinya. Kedua: adanya
penghalang sehingga dia tidak dapat mencintai orang yang dicintanya, baik
karena adanya cela dalam akhlak, bentuk rupa, sikap dan faktor lainnya.
Ketiga: adanya penghalang dari pihak orang yang dicintai.

Jika penghalang ini dapat disingkirkan maka akan terjalin benang-benang
cinta antara keduanya. Kalau bukan karena kesombongan, hasad, cinta
kekuasaan dan permusuhan dari orang-orang kafir, niscaya para rasul-rasul
akan menjadi orang yang paling mereka cintai lebih dari cinta mereka kepada
diri, keluarga dan harta.

Terapi penyakit al-isyq

Sebagai salah satu jenis penyakit, tentulah al-isyq dapat disembuhkan
dengan terapi-terapi tertentu. Diantara terapi tersebut adalah sebagai
berikut:

1. Jika terdapat peluang bagi orang yang sedang kasmaran tersebut untuk
meraih cinta orang yang dikasihinya dengan ketentuan syariat dan suratan
taqdirnya, maka inilah terapi yang paling utama. Sebagaimana terdapat dalam
sahihain dari riwayat Ibn Mas’ud Radhiyallahu, bahwa Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa Sallam bersabda: “Hai sekalian pemuda, barang siapa yang mampu
untuk menikah maka hendaklah dia menikah , barang siap yang belum mampu maka
hendaklah berpuasa karena puasa dapat menahan dirinya dari ketergelinciran
(kepada perbuatan zina)”.

Hadis ini memberikan dua solusi, solusi utama, dan solusi pengganti. Solusi
petama adalah menikah, maka jika solusi ini dapat dilakukan maka tidak boleh
mencari solusi lain. Ibnu Majah meriwaytkan dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah
saw bersabda: “Aku tidak pernah melihat ada dua orang yang saling mengasihi
selain melalui jalur pernikahan”.

Inilah tujuan dan anjuran Allah untuk menikahi wanita, baik yang merdeka
ataupun budak dalam firman-Nya: “Allah hendak memberikan keringanan
kepadamu, dan manusia dijadikan bersifat lemah”.(an-Nisa:28)

Allah menyebutkan dalam ayat ini keringanan yang diberikannya terhadapa
hambaNya dan kelemahan manusia untuk menahan syahwatnya denga nmembolehkan
mereka menikahi para wanita yang baik-baik dua, tiga ataupun
empat,sebagaimana Allah membolehkan bagi mereeka mendatangi budak-budak
wanita mereka. Sampai-sampai Allah membuka bagi mereka pintu untuk menikahi
budak-budak wanita jika mereka butuh sebagai peredam syahwat, keringanan dan
rahmati-Nya terhadap makluk yang lemah ini..

2. Jika terapi pertama tidak dapat dilakukan karena tertutupnya
peluang menuju orang yang dikasihinya karena ketentuan syar’i dan takdir,
penyakit ini bisa semangkin ganas. Adapun terapinya harus dengan meyakinkan
dirinya bahwa apa-apa yang diimpikannya mustahil terjadi, lebih baik baginya
untuk segera melupakannya. Jiwa yang berputus asa untuk mendapatkan sesuatu,
niscaya akan tenang dan tidak lagi mengingatnya. Jika ternyata belum
terlupakan, akan berpengaruh terhadap jiwanya sehingga semangkin menyimpang
jauh.

Dalam kondisi seperti ini wajib baginya untuk mencari terapi lain yaitu
dengan mengajak akalnya berfikir bahwa menggantungkan hatinya kepada sesuatu
yang mustahil dapat dijangkau adalah perbuatan gila, ibarat pungguk
merindukan bulan. Bukankah orang-orang akan mengganggapnya termasuk ke dalam
kumpulan orang-orang yang tidak waras?

Apabila kemungkinan untuk mendapatkan apa yang dicintainya tertutup karena
larangan syariat, terapinya adalah dengan mengangap bahwa yang dicintainya
itu bukan ditakdirkan menjadi miliknya. Jalan keselamatan adalah dengan
menjauhkan dirinya dari yang dicintainya.Dia harus merasa bahwa pintu kearah
yang diingininya tertutup, dan mustahil tercapai.

3. Jika ternyata jiwanya yang selalu menyuruhnya kepada kemungkaran
masih tetap menuntut, hendaklah dia mau meninggalkannya karena dua hal,
pertama karena takut (kepada Allah) yaitu dengan menumbuhkan perasaan bahwa
ada hal yang lebih layak dicintai, lebih bermanfaat,lebih baik dan lebih
kekal. Seseorang yang berakal jika menimbang-nimbang antara mencintai
sesuatu yang cepat sirna dengan sesuatu yang lebih layak untuk dicintai,
lebih bermanfaat, lebih kekal dan lebih nikmat, akan memilih yang lebih
tinggi derajatnya. Jangan sampai engkau menggadaikan kenikmatan abadi yang
tidak terlintas dalam pikiranmu dengan kenikmatan sesaat yang segera
berbalik menjadi sumber penyakit. Ibarat orang yang sedang bermimpi indah,
ataupun menghayal terbang melayang jauh, ketika tersadar ternyata hanyalah
mimpi dan khayalan, akhirnya sirnalah segala keindahan semu, tinggal
keletihan, hilang nafsu dan kebinasaan menunggu.

Kedua keyakinan bahwa berbagai resiko yang sangat menyakitkan akan
ditemuinya jika dia gagal melupakan yang dikasihinya, dia akan mengalami dua
hal yang menyakitkan sekaligus, yaitu:gagal dalam mendapatkan kekasih yang
diinginkannya,dan bencana menyakitkan dan siksa yang pasti akan menimpanya.
Jika yakin bakal mendapati dua hal menyakitkan ini niscaya akan mudah
baginya meninggalkan perasaan ingin memiliki yang dicinta.Dia akan bepikir
bahwa sabar menahan diri itu lebih baik. Akal, agama , harga diri dan
kemanusiaannya akan memerintahkannya untuk bersabar sedikit demi
mendapatkan kebahagiaan yang abadi. Sementara kebodohan, hawa nafsu,
kezalimannya kan memerintahkannya untuk mengalah mendapatkan apa yang
dikasihinya . orang yang terhindar adalah orang-orang yang dipelihara oleh
Allah.

4. Jika hawa nafsunya masih tetap ngotot dan tidak terima dengan terapi
tadi, maka hendaklah berfikir mengenai dampak negatif dan kerusakan yang
akan ditimbulkannya segera, dan kemasalahatan yang akan gagal diraihnya.
Sebab mengikuti hawa nafsunya akan menimbulkan kerusakan dunia dan menepis
kebaikan yang datang, lebih parah lagi dengan memperturutkan hawa nafsu ini
akan menghalanginya untuk mendapat petunjuk yang merupakan kunci
keberhasilannya dan kemaslahatannya.

5. Jika terapi ini tidak mempan juga untuknya, hendaklah dia selalu
mengingat sisi-sisi kejelekan kekasihnya,dan hal-hal yang membuatnya dampat
menjauh darinya, jika dia mau mencari-cari kejelekan yang ada pada
kekasihnya niscaya dia akan mendapatkannya lebih dominan dari keindahannya,
hendaklah dia banyak bertanya kepada orang-orang yang berada disekeliling
kekasihnya tentang berbagai kejelekannya yang tersembunyi baginya. Sebab
sebagaiman kecantikan adalah faktor pendorong seseorang untuk mencintai
kekasihnya demikian pula kejelekan adalah pendorong kuat agar dia dapat
membencinya dan menjauhinya. Hendaklah dia mempertimbangkan dua sisi ini dan
memilih yang terbaik baginya. Jangan sampai terperdaya dengan kecantikan
kulit dengan membandingkannya dengan orang yang terkena penyakit sopak dan
kusta, tetapi hendaklah dia memalingkan pandangannnya kepada kejelelekan
sikap dan prilakunya, hendaklah dia menutup matanya dari kecantikan fisik
dan melihat kepada kejekan yang diceritakan mengenainya dan kejelekan
hatinya.

6. Jika terapi ini masih saja tidak mempan baginya, maka terapi
terakhir adalah mengadu dan memohon dengan jujur kepada Allah yang
senantiasa menolong orang-orang yang ditimpa musibah jika memohon kepadaNya,
hendaklah dia menyerahkan jiwa sepenuhnya dihadapan kebesaranNya, sambil
memohon, merendahkan dan menghinakan diri. Jika dia dapat melaksankan terapi
akhir ini, maka sesunguhnya dia telah membuka pintu taufik (pertolongan
Allah). Hendaklah dia berbuat iffah (menjaga diri) dan menyembunyikan
perasaannya, jangan sampai dia menjelek-jelekkan kekasihanya dan
mempermalukannya dihadapan manusia, ataupun menyakitinya, sebab hal tersebut
adalah kezaliman dan melampaui batas.

Penutup

Demikianlah kiat-kiat khusus untuk menyembuhkan penyakit ini. Namun ibarat
kata pepatah: mencegah lebih baik daripada mengobati, maka sebelum terkena
lebih baik menghindar. Bagaimana cara menghindarinya? tidak lain dengan
tazkiyatun nafs. Semoga pembahasan ini bermanfaat.

Diterjemahkan oleh: Ahmad Ridwan,Lc (Abu Fairuz Al-Medani), Dari kitab :
Zadul Ma’ad fi hadyi khairi Ibad juz 4/hlm. 265-274

1. Ini berita batil yang diriwayatkan oleh Ibn Sa’ad dalam at-
Tabaqat/101-102, dan al-Hakim 3/23 dari jalan Muhammad ibn Umar al Waqidi
seorang yang Matruk (ditinggalkan)– dan sebagian menggapnya sebagai pemalsu
hadis, dari Muhakmmad ibn Yahya ibn Hibban–seorang yang siqah –namun
riwayat yang diriwayatkannya dari Nabi sekuruhnya mursal. Kebatilah riwayat
ini telah diterangkan oleh para ulama almuhaqqiqin. Mereka berkata: Penukil
riwayat ini dan yang menggunakan ayat ini sebagai dalil terhadap prasangka
buruk mereka mengenai Rasulullah sebenranya tidak meletetakkan kedudukan
kenabianRasulullah sebagaimana layaknya, dan tidak mengerti makna kemaksuman
Beliau. Sesungguhnya yang disembunayikan Nabi di dalam dirinya dan
belakangan Allah nampakkan adalah berita yang Allah sampaikan padanya bahwa
kelak Zaenab akan menjadi istrinya. Faktor yang membuat nabi menyembunyikan
berita ini tidak lain disebabkan perasaan takut beliau terhadap perkataan
orang bahwa Beliau tega menikahi istri anak angkatnya . Sebenarnya dengan
kisah ini Allah ingin membatakan tadisi jahiliyyah ini dalam hal adopsi ,
yaitu dengan menikahkan Rasulullah dengan istri anak angkatnya. Peristiwa
yang terjadi dengan Rasulullah ini sebagai pemimpin manusia akan lebih
diterima dan mengena di hati mereka.. Lihat Ahkam Alquran 3/1530,1532 karaya
Ibn Arabi dan Fathul Bari8/303, Ibn Kastir 3/492, dan Ruhul Ma’ani 22/24-25.

2. Hadis diriwayatkan oleh Bukhari 7/15 dalam bab fadhail sahabat Nabi,
dari jalan Abdullah ibn Abbas, dan diriwayatkan oleh Imam Muslim (2384)
dalam fadailSahabat, bab keutamaan Abu Bakar, dari jalan Abdullah ibn Masud,
dan keduanya sepakat meriwayatkan dari jalan Abu Sa’id al-khudri.

3. Hadis Riwayt Bukhari 7/267dari hadis Aisyah secara muallaq, dan
Muslim (2638)dari jalan Abu Hurairah secara mausul

4. Diriwayatkan oleh Ahmad 6/145, 160, dan an-Nasai dari jalan Aisyah
Bahwa Rasulullah Saw bersabda: Aku bersumpah terhadap tiga hal, Allah tidak
akan menjadikan orang-orang yang memiliki saham dalam Islam sama dengan
orang yang tidak memiliki saham, saham itu yakni: Sholat, puasa dan zakat.
Tidak lah Allah mengangkat seseorang di dunia, kemudain ada selainNya yang
dapat mengankat (derajatnya) di hari kiamat. Tidaklah seseorang mencintai
suatu kaum kecuali kelak Allah akan menggumpulkannya bersama(di akhirat).
Kalau boleh aku bersumpat terhadap yang keempat dan kuharap aku tiodak
berdosa dalam hal ini yaitu tidaklah seseorang memberi pakaian kepada orang
lain (untuk menutupi auratnya) kecuali Allah akn memberikannya pakaian
penutup di hari kiamat. Para perawi hadis ini stiqah kecuali
Ssyaibahal-khudri( di dalam Musnad di tulis keliru dengan al-isyq-hadromi).
Dia meriwayatkan dari Urwah, dan dia tidak di tsiqahkan kecuali oleh Ibn
Hibban, namun ada syahidnya dari hadist Ibn Masud dari jalur Abu Yala, dan
Thabrani dari jalur Abu Umamah, dengan kedua jalan ini hadis ini menjadi
sahih.

Categories: Agama | Tags: | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: