Pendidikan

KURIKULUM PENDIDIKAN TIDAK ADA YANG SEMPURNA


Rasanya judul di atas seakan profokatif, karena menjurus pada konotasi jelek dan bermuatan “negatif“, padahal sejatinya hanya sebagai bahan stimulus agar para peselancar dunia maya mau berlabuh sebentar di Pulau Blog penulis untuk sekedar menghirup nafas sembari menikmati kopi sambil membaca artikel ini, yang mudah-mudahan bermanfaat.  Mungkin kalau mendengar  kata kurikulum pendidikan, seperti hal yang tidak begitu penting untuk  dikupas hanya untuk melihat kekurangan maupun kelebihannya. Namun selaku guru, penulis memiliki kewajiban moral untuk sekedar mendalami  materi dari sebuah kurikulum pendidikan. Meskipun pengetahuan yang penulis miliki tentang kurikulum pendidikan masih terbilang minim, namun setidaknya dapat memberikan tambahan referensi bagi para pembaca untuk menelaah lebih lanjut dan lebih mendalam  tentang kurikulum pendidikan di Indonesia.  Memang serba salah, di satu sisi, sebagai guru, hanya berkewajiban untuk  menjalankan dan melaksanakan kurikulum yang sudah ditetapkan Pemerintah, namun disisi lain, sebagai insan akademik, guru memandang perlu adanya koreksi atau kritikan sekiranya pelaksanaan kurikulum yang dirasakan, justru malah membebani guru bahkan merugikan peserta didik.

Terkadang penulis heran dengan adanya perubahan ataupun penyempurnaan kurikulum pendidikan yang didasari oleh uji coba. Jangankan menerapkan pelaksaanaan kurikulum pendidikan secara tuntas dan menyeluruh, mengevaluasi pelaksanaan kurikulum sebelumnya, sejauh penulis tahu, rasanya belum pernah dilaksanakan.  Sebagaimana yang terjadi pada saat kurikulum 2006 diberlakukan, belum sepenuhnya para guru dan pelaku pendidikan lainnya melaksanakan secara tuntas, ternyata sudah diujicobakan kurikulum 2013. Tentunya sebagai guru, tak bisa berbuat apa-apa selain melaksanakan kewajiban 7 tugas pokok guru sesuai kurikulum yang berlaku berdasar pada UU atau permen yang telah ditetapkan oleh pemerintah.  Jeritan guru-guru di daerah pinggiran hanya menjadi hiasan kehidupan pendidikan di Indonesia.  Guru tak lagi seperti jaman dahulu yang tidak terikat oleh berbagai regulasi. Nyatanya guru-guru di zaman dahulu mampu menghasilkan berbagai karya cipta ilmu pengetahuan, bahkan mampu mencetak peserta didik/murid yang cemerlang dan jenius. Sebut saja, Bukhari, seorang perowi hadits yang mampu menghafalkan ratusan ribu hadits nabi hanya dalam waktu beberapa tahun saja, ketika berguru pada Ahmad bin Hambal. Jadi tak bisa dipungkiri, guru di zaman sekarang  terikat oleh berbagai aturan dan norma karena berbagai factor.

Di sini, penulis tidak mengajak pembaca untuk mengkritisi kurikulum yang ada sekarang, namun mencoba menghadirkan pemikiran bebas layaknya seorang pujangga yang bebas berkreasi. Karena bukan kapasitas penulis untuk mengkritisi apalagi mendiskreditkan kurikulum pendidikan di Indonesia, karena penulis  hanyalah seorang guru  SMP di desa terpencil yang jauh dari hiruk pikuk keramaian kota.  Terlepas dari itu semua, kurikulum di Indonesia ternyata telah mengalami perubahan dan penyempurnaan sampai 11 kali, seperti gambar di bawah ini.

kurikulum

  1. Kurikulum Rencana Pelajaran (1947)

Berorientasi Politis, dengan tujuan mengarahkan orientasi pendidikan Belanda ke pendidikan nasional.  Pendidikan lebih menekankan pada pembentukan karakter manusia Indonesia merdeka, berdaulat, dan sejajar dengan bangsa lain di muka bumi ini serta menekankan pendidikan watak.

  1. Kurikulum Rencana Pelajaran Terurai (1952)

Merupakan penyempurnaan kurikulum sebelumnya, dimana setiap pelajaran dihubungkan dengan kehidupan sehari-hari.  Sudah ada kejelasan dalam silabus tentang guru mengajar.

  1. Kurikulum Rencana Pendidikan (1964)

Menyempurnakan kurikulum 1952. Model pembelajaran dipusatkan pada program Pancawardhana, yaitu pengembangan moral, kecerdasan, emosional atau artistik, keprigelan (keterampilan), dan jasmani.

  1. Kurikulum 1968

Bernuansa politis karena menganggap kurikulum 1964 sebagai produk orde lama. Tujuan kurikulum : membentuk manusia Pancasila sejati, kuat, dan sehat jasmani, mempertinggi kecerdasan dan keterampilan jasmani, moral, budi pekerti, dan keyakinan beragama..

  1. Kurikulum 1975

Penyempurna kurikulum 1968. Kurikulum dipengaruhi oleh konsep di bidang manajemen MBO (management by objective). Metode, materi, dan tujuan pengajaran dirinci dalam Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional (PPSI), dikenal dengan istilah satuan pelajaran, yaitu rencana pelajaran setiap satuan bahasan.

  1. Kurikulum 1984

Merupakan Penyempurna Kurikulum 1975.  Mengusung pendekatan proses keahlian dengan menganggap penting faktor tujuan.  Siswa dianggap sebagai subyek belajar. Pada kurikulum ini menggunakan model CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif).

  1. Kurikulum 1994 dan Suplemen Kurikulum 1999

Merupakan hasil perpaduan kurikulum 1975 dan 1984 yang super padat, karena beban belajar siswa dinilai terlalu berat, dari muatan nasional sampai muatan lokal.

  1. Kurikulum 2004, KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi)

Suatu program pendidikan berbasis kompetensi yang menekankan pada ketercapaian kompetensi siswa baik secara individual maupun klasikal, berorientasi pada hasil belajar dan keberagaman. Kegiatan belajar menggunakan pendekatan dan metode bervariasi.

  1. Kurikulum 2006, KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan)

Hampir sama dengan Kurikulum 2004. Perbedaan menonjol terletak pada kewenangan dalam penyusunannya, yaitu mengacu pada jiwa dari desentralisasi sistem pendidikan. Pada Kurikulum 2006, pemerintah pusat menetapkan standar kompetensi dan kompetensi dasar. Guru dituntut mampu mengembangkan sendiri silabus dan penilaian sesuai kondisi sekolah dan daerahnya.

  1. Kurikulum 2013

Memiliki tiga aspek penilaian, yaitu pengetahuan, keterampilan, dan sikap. Terdapat materi yang dirampingkan dan materi yang ditambahkan.

  1. Kurikulum 2015

Kurikulum tahun 2015 ini ternyata masih dalam tahap penyempurnaan dari kurikulum 2013. Namun Ujian Nasional yang digelar pada tahun 2015 ternyata menggunakan Kurikulum 2006 yaitu KTSP. Karena, untuk saat ini, siswa yang sekolahnya sudah menggunakan Kurikulum 2013 baru melaksanakan tiga semester.

Dari urauian di atas, ternyata kurikulum pendidikan di Indonesia  lebih banyak didominasi oleh bentuk penyempurnaan kurikulum sebelumnya. Namun ada juga beberapa kurikulum yang bernuansa potilis, dan pesanan penguasa. Dan jika dicermati lebih dalam lagi, kurikulum di Indonesia hanyalah sebuah program belaka.  Karena itu, wajar saja jika kurikulum bisa mengalami kegagalan karena memang kurikulum adalah program pendidikan.  Keberhasilan sebuah program pasti banyak ditentukan oleh manusianya itu sendiri.  Dan bisa jadi program kurikulum 2013 mengalami kegagalan atau ketidaksempurnaan. Mengapa demikian ?  Karena hal itu disebabkan oleh mulai ada indikasi bahwa kurikulum 2015 yang masih dalam tahap penyempurnaan  akan bergulir.  Semoga kurikulum 2013 mampu menjawab tantangan dan persoalan pendidikan di masa sekarang, bukan menjadi pemanis kebutuhan pendidikan di Indonesia, dan bukan pula  pesanan penguasa untuk memperkuat kekuasaannya. Dengan demikian dapat diambil satu konklusi bahwa kurikulum di Indonesia sampai saat ini belum ada yang berhasil  secara optimal.

 

 

 

 

 

 

 

 

Iklan
Categories: Artikel, Blog, Pendidikan | Tag: , | Tinggalkan komentar

Diproteksi: Mau Di Bawa Kemana Pendidikan Kita ??


Konten ini diproteksi dengan password. Untuk melihatnya cukup masukkan password Anda di bawah ini:

Categories: Artikel, Blog, Pendidikan | Tag: , | Masukkan password Anda untuk melihat komentar.

Hari Raya Guru Indonesia


Hari raya merupakan hari spesial yang dirayakan oleh sebagian kalangan karena aspek-aspek  psikhologis di antaranya faktor nilai rasa senang yang tiada batas, rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa serta wujud kepatuhan kepada Sang Pencipta. Seperti halnya umat Islam, Kristen, Budha dan umat yang lainnya, hari raya dijadikan sebagai hari yang sakral, hari yang khusus sekaligus sebagai momentum mencurahkan rasa senang dan gembira.

Bagi sebagian orang, hari raya acapkali menjadi ajang untuk melampiaskan rasa senang bersama karena persamaan nasib. Sebagaimana yang terjadi di kalangan para pendidik dan pelaku pendidikan di Indonesia, yang merasa sangat bahagia ketika sertifikasi telah bisa dicairkan. Betapa senangnya hati guru, seperti halnya penulis, saat mendengar berita tentang pencairan sertifikasi dari media maupun langsung dari teman sejawat. Mendengar saja sudah membuat hati senang, apalagi jika merealisasikannya. Barangkali ini merupakan satu fenomena baru yang terjadi di Indonesia, betapa hari-hari pencairan sertifikasi, menjadi hari spesial guru. Mungkin tidak salah jika penulis menyebut sebagai Hari Raya Umat Guru Indonesia.

Walaupun berbeda dari sudut bentuk dan isinya, namun jika merujuk pada hakikatnya, ada kesamaan antara hari spesial guru dengan hari raya umat beragama. Meskipun hari spesial guru tidak memiliki ketetapan yang  pasti menyangkut tanggal dan hari, paling tidak ada rentangan hari yang mampu membuat guru merasa sangat senang layaknya perasaan senang saat berjumpa dengan hari raya umat beragama.

Jika dilihat lebih mendalam fenomena di atas, sejatinya pemerintah perlu mempertimbangkan kembali Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No 18 Tahun 2007 Tentang SERTIFIKASI GURU. Mengapa demikian ? karena gaji pokok guru tidak lagi sebanding dengan tugas yang diemban guru di masa sekarang ini.  Tengok saja pendapatan buruh di Jakarta, Sumatera Utara dan Sulawesi Selatan sudah melampaui gaji pokok guru golongan III A masa kerja 15 tahun.  Tidak heran, jika pencairan sertifikasi guru layaknya oase bagi guru di Indonesia dan pastas dinisbatkan sebagai Hari Raya Guru.

Sertifikasi guru adalah sebuah bentuk penghargaan pemerintah terhadap guru yang memiliki kinerja baik sebagaimana yang pernah disampaikan oleh Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PAN-RB), Asman Abnur bahwa “Struktur penggajian ASN ke depan harus berdasarkan capaian kinerja, berdasarkan laporan akuntabilitas kinerja, sehingga  untuk PNS yang malas dan yang berprestasi, tunjangan kinerjanya tidak sama”. Hal Ini menunjukkan bahwa sertifikasi sebagai bagian dari tunjangan kinerja bukan didasarkan hanya pada pencapaian guru dalam penyusunan PTK semata, tetapi lebih kepada kinerja selama mengemban tugas pokok guru. Benar saja, jika hari-hari pencairan sertifikasi menjadi euforia di berbagai daerah di Indonesia.

Persoalan baru akan muncul ketika “hari raya guru” harus sirna di muka bumi. Akan banyak terjadi kemiskinan gaya baru yang di sandang oleh guru khususnya guru-guru yang sudah terlanjur melilitkan SK PNS ke berbagai Bank di Indonesia.  Bisa jadi, guru akan mencari tambahan pekerjaan di luar mengajar dan mendidik siswa di sekolah, demi tercukupinya  kebutuhan hidup. Jika sudah seperti itu, tentu akan berdampak berkurangnya jam mengajar di sekolah. Secara tidak langsung berpengaruh kepada menurunnya kualitas pembelajaran di sekolah.

Menurut logika berpikir penulis, lebih baik pemerintah mempertahankan “hari raya guru”, agar kinerja guru tetap terjaga, terlebih lagi jika pemerintah menaikkan gaji  pokok guru sesuai dengan kinerjanya tanpa menghilangkan sertifikasi sama sekali. Pasti semua guru akan mengapresiasi langkah tersebut. Jangan sampai hari raya guru dihilangkan oleh pemerintah demi alasan defisit anggaran negara. Boleh saja pemerintah menghilangkan hari raya guru, tetapi gaji pokok dan tunjangan guru harus dinaikkan sesuai dengan besaran sertifikasi yang diperoleh.

 

Prupuk Utara, 31 Desember 2017

Mbajeng BMG

Staf Pengajar SMPN 2 Margasari

Categories: Blog, Pendidikan, Pengetahuan Umum | Tinggalkan komentar

Diproteksi: Perlukah Sanksi Dalam PTK ???


Konten ini diproteksi dengan password. Untuk melihatnya cukup masukkan password Anda di bawah ini:

Categories: Blog, Pendidikan | Masukkan password Anda untuk melihat komentar.

MODEL PEMBELAJARAN MAKE A MATCH


 ( Sebuah catatan kecil mengenai  Studi Kasus Di kelas  IX B SMP N 2 MARGASARI KAB TEGAL di semester genap  tahun pelajaran 2015/2016 )

Dalam dunia pendidikan khususnya tingkat pendidikan dasar jenjang  SLTP,  penerapan model pembelajaran di kelas sangatlah penting untuk mendorong siswa meningkatkan aktivitas dan kreativitas  dalam proses kegiatan belajar, baik di dalam maupun di luar kelas sehingga kelas akan lebih hidup, dinamis dan memberi kenyamanan bagi peserta didik. Di sisi lain model pembelajaran dengan teknik yang sesuai dengan kemampuan dan karakter akan dapat memberi nilai positif bagi peningkatan prestasi akademik peserta didik.
Sebuah Model pembelajaran yang sesuai, akan mendorong siswa untuk ikut aktif serta terlibat dalam kegiatan di kelas. Peserta didik akan  berfikir sekaligus melakukan proses interaksi sosial dengan teman satu kelasnya.  Salah satu model pembelajaran yang  penulis rasakan sesuai dengan karakter Kelas IX B, SMP N 2 Margasari, Kab. Tegal adalah Model Pembelajaran Kooperative Make A Match.
Model pembelajaran yang dikembangkan oleh Lorna Curran ini merupakan model atau teknik  dengan mencari pasangan sambil belajar mengenai suatu konsep atau topik, dalam suasana yang menyenangkan. Hemat penulis model ini menyuguhkan keasyikan dan kenyamanan peserta didik untuk melatih  kecerdasan dari segi intelektualnya maupun segi sosialnya.
Sebagai gambaran, SMP N 2 Margasari Kab. Tegal adalah salah satu sekolah yang notabene input siswa secara kuantitas cukup besar (lebih dari 21 kelas), namun masih relatif rendah dari segi kualitas. Hal ini, mendorong penulis untuk mencoba menerapkan sebuah teknik belajar dengan model yang lebih modern, dinamis dan aktual dalam arti mengikuti perkembangan IPTEK sehingga dapat menambah nilai dari segi kualitas akademiknya.
Model pembelajaran Make a Match ini juga menuntut guru untuk berkreasi, imaginatif, aktif dan inovatif dalam memberdayakan dan mengelola kelas dengan segala keterbatasan sarana belajar yang tersedia.  Terlepas dari kekurangan model belajar Make a Match, penulis berharap model ini mampu mengembangkan keterampilan penulis dalam kegiatan belajar mengajar di kelas.
Baca lebih lanjut
Categories: Entertainment, Pendidikan | Tinggalkan komentar

SMP N 2 MARGASARI MENUJU SEKOLAH ADIWIYATA


      SMP N 2 Margasari, Kabupaten Tegal, berencana akan menjalankan program Kementrian Lingkungan Hidup yakni sekolah berbasis lingkungan mulai tahun 2017. Hal ini dilatar belakangi oleh kondisi sekolah yang sangat ideal untuk dikembangkan menjadi sekolah hijau. Terlepas adanya kekurangan yang ada, SMP N 2 Margasari tetap akan berusaha secara optimal guna mencapai penghargaan sebagai sekolah Adiwiyata.   

      Kata ADIWIYATA berasal dari 2 (dua) Kata “ADI” dan “WIYATA”. Adi memiliki makna: besar, agung, baik, ideal dan sempurna. Wiyata memiliki makna: tempat dimana seorang mendapat ilmu pengetahuan, norma dan etika dalam berkehidupan sosial. Jika secara keseluruhan ADIWIYATA mempunyai pengertian atau makna: tempat yang baik dan ideal dimana dapat diperoleh secara ilmu pengetahuan dan berbagai norma serta etika yang dapat menjadi dasar manusia menuju terciptanya kesejahteraan hidup kita menuju keada cita-cita pembangunan berkelanjutan.

Gambar terkait

   Adiwiyata adalah salah satu program Kementrian Lingkungan Hidup dalam upaya rangka mendorong terciptanya pengetahuan dan kesadaran warga sekolah dahulu dalam upaya pelestarian lingkungan hidup. Dalam program ini diharapkan setiap warga sekolah dapat ikut terlibat dalam kegiatan sekolah menuju lingkungan yang sehat dan menghindarkan dampak lingkungan yang negatif.

 

   Tujuan Program Adiwiyata adalah menciptakan kondisi yang baik bagi sekolah agar menjadi tempat pembelajaran dan penyadaran warga sekolah (guru, murid dan pekerja lainnya), sehingga dikemudian hari warga sekolah tersebut dapat turut bertanggung jawab dalam upaya – upaya penyelamatan lingkungan dan pembangunan berkelanjutan.
Program Adiwiyata dikembangkan berdasarkan norma – norma dalam berperikehidupan yang antara lain meliputi: kebersamaan, keterbukaan, kesetaraan, kejujuran, keadilan, dan kelestarian fungsi lingkungan hidup dan sumber daya alam. 

        Atas dasar itu, maka SMP N 2 Margasari, Kabupaten Tegal, berencana akan melaksanakan program menuju sekolah adiwiyata yakni managemen sekolah yang berwawasan lingkungan. Tentunya akan ada hal hal yang perlu dibenahi dan dikembangkan sebagai acuan atau resiko menuju sekolah hijau.

     Empat aspek yang harus menjadi perhatian sekolah untuk dikelola dengan cermat dan benar apabila mengembangkan Program Adiwiyata yakni ; Kebijakan, Kurikulum, Kegiatan, dan Sarana Prasarana. Sehingga secara terencana Pengelolaan aspek-aspek tersebut harus diarahkan pada indikator yang telah ditetapkan dalam program Adiwiyata.
  • Kebijakan Sekolah Peduli dan Berbudaya Lingkungan,
  • Kurikulum Berbasis.. Lingkungan,
  • Kegiatan Berbasis Parisipatif dan
  • Sarana dan Prasarana Pendukung Ramah Lingkungan.


1. Pengembangan Kebijakan Sekolah.

Untuk mewujudkan sekolah yang peduli dan berbudaya lingkungan maka diperlukan model pengelolaan sekolah yang mendukung dilaksanakannya pendidikan lingkungan hidup oleh semua warga sekolah sesuai dengan prinsip-prinsip dasar Program Adiwiyata yakni Partisipatif dan Berkelanjutan. Pengembangan Kebijakan Sekolah yang diperlukan untuk mewujudkan Sekolah Peduli dan Berbudaya Lingkungan tersebut antara lain ;
  • Visi dan Misi Sekolah yang Peduli dan Berbudaya Lingkungan.
  • Kebijakan Sekolah dalam mengembangkan Pendidikan Lingkungan Hidup.
  • Kebijakan Peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM) baik Pendidikan maupun tenaga Kependidikan dibidang Pendidikan Lingkungan Hidup.
  • Kebijakan Sekolah dalam hal penghematan Sumber Daya Alam
  • Kebijakan Sekolah yang mendukung terciptanya Lingkungan Sekolah yang Bersih dan Sehat.
  • Kebijakan Sekolah untuk pengalokasian dan penggunaan dana bagi kegiatan yang terkait dengan lingkungan hidup.

2. Pengembangan Kurikulum Berbasis Lingkungan

Penyampaian materi lingkungan hidup kepada para peserta didik dapat dilakukan melalui kurikulum belajar yang bervariasi, dilakukan untuk memberikan pemahaman kepada siswa tentang lingkungan hidup yang dikaitkan dengan persoalan lingkungan sehari-hari. Pengembangan kurikulum berbasisi lingkungan hidup mewujudkan Sekolah Peduli dan Berbudaya Lingkungan dapat dicapai dengan melakukan hal-hal berikut ini :
  • Pengembangan model pembelajaran lintas mata pelajaran,
  • Penggalian dan pengembangan materi dan persoalan lingkungan hidup yang ada di masyarakat sekitar,
  • Pengembangan metode belajar berbasis lingkungan dan budaya,
  • Pengembangan kegiatan kurikuler untuk peningkatan pengetahuan dan kesadaran siswa tentang lingkungan hidup.

3. Pengembangan Kegiatan Berbasis Parsitipatif

Untuk mewujudkan Sekolah Peduli dan Berbudaya Lingkungan, warga sekolah perlu dilibatkan dalam berbagai aktivitas pembelajaran lingkungan hidup. Selain itu sekolah juga diharapkan melibatkan masyarakat di sekitarnya dalam melakukan berbagai kegiatan yang memberikan manfaat baik bagi warga sekolah, masyarakat maupun lingkungannya. Kegiatan-kegiatan yang dapat dilakukan oleh warga sekolah dalam pengembangan kegiatan berbasis partisipatif antara lain :
  • Menciptakan kegiatan ekstrakurikuler/kurikuler di bidang lingkungan hidup berbasis partisipatif di sekolah,
  • Mengikuti kegiatan aksi lingkungan hidup yang dilakukan oleh pihak luar,
  • Membangun kegiatan kemitraan atau memprakarsai pengembangan pendidikan lingkungan hidup di sekolah.

4. Pengelolaan dan atau pengembangan Sarana Pendukung Sekolah

Dalam mewujudkan Sekolah Peduli dan Berbudaya Lingkungan sarana prasarana yang encerminkan upaya pengelolaan lingkungan hidup. Pengelolaan dan pengembangan sarana tersebut antara lain :
  • Pengembangan fungsi sarana pendukung sekolah yang ada untuk pendidikan lingkungan hidup,
  • Peningkatan kualitas pengelolaan lingkungan di dalam dan di luar kawasan sekolah,
  • Penghematan sumberdaya alam (listrik, air dan ATK),
  • Peningkatan kualitas pelayanan makanan sehat,
  • Pengembangan sistem pengelolaan sampah..
        Ada beberapa penghargaan dalam program Adiwiyata. Penghargaan Adiwiyata terbagi dalam 3 kategori yaitu Sekolah Adiwiyata Mandiri, Sekolah Adiwiyata, dan Sekolah Calon Adiwiyata. Adiwiyata Mandiri diberikan kepada sekolah-sekolah yang mampu mempertahankan program-program lingkungan hidup mereka selama tiga tahun berturut-turut. Meski demikian pada dasarnya program Adiwiyata tidak ditujukan sebagai suatu kompetisi atau lomba. Penghargaan Adiwiyata diberikan sebagai apresiasi kepada sekolah yang mampu melaksanakan upaya peningkatan pendidikan lingkungan hidup secara benar, sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan. Sebagaimana disebutkan diatas, penghargaan adiwiyata tahapan pemberdayaan (selama kurun waktu kurang dari 3 tahun) dan tahap kemandirian (selama kurun waktu lebih dari 3 tahun). Pada tahap awal, penghargaan Adiwiyata dibedakan atas dua kategori, yaitu :
  • Sekolah Adiwiyata adalah sekolah yang dinilai telah berhasildalam melaksanakan Pendidikan Lingkungan Hidup.
  • Calon sekolah Adiwiyata adalah sekolah yang dinilai telah berhasil dalam pengembangan lingkungan hidup.
       Pada saatnya SMP N 2 Margasari diharapkan menjadi dan terbentuk sekolah berwawasan lingkungan yakni sekolah yang menerapkan nilai-nilai cinta dan peduli lingkungan pada sekolahnya. Pengajaran yang berbasisi lingkungan dan kesadaran warga sekolah akan pentingnya lingkungan merupakan bagian terpenting dari sekolah berwawasan lingkungan hidup.

Source : 
http://fabulouschool.tumblr.com/post/22128857278/model-pengelolaan-sekolah-berwawasan-lingkungan-menuju
http://soviadeviani.weebly.com/adiwiyata.htm

Categories: Entertainment, Pendidikan | Tinggalkan komentar

Evaluasi Kurikulum 2013


Kementerian Pendidikan dan kebudayaan sedang meminta masukan berbagai pihak, diantaranya guru dan pakar, untuk mengevaluasi Kurikulum 2013.

“Jelas dilibatkan, guru, dosen dan ahli-ahli bidang pendidikan dilibatkan,” kata Kepala Pusat Kurikulum dan Perbukuan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Ramon Mohandas, kepada wartawan BBC Indonesia, Heyder Affan, Selasa (25/11).

Evaluasi atas Kurikulum 2013 dilakukan oleh Kemendikbud setelah ada desakan moratorium atas penerapan kurikulum itu karena dianggap terlalu dipaksakan.

Sejak disahkan, kurikulum 2013 telah diujicoba pada tahun lalu dengan menjadikan beberapa sekolah sebagai sekolah percobaan.

Di tahun 2014, kurikulum ini sudah diterapkan di klas I, II, IV dan V, sementara untuk SMP Kelas VII dan VIII. Adapun untuk SMA diberlakukan untuk Kelas X dan XI.

Namun di saat itulah, muncul berbagai kritik dan keluhan dari pihak institusi pendidikan terhadap kesiapan pemerintah dalam penerapan kurikulum itu.

Pengamat masalah pendidikan, Darmaningtyas mengatakan, pemerintahan sebelumnya terlalu cepat menerapkan kurikulum 2013, padahal belum semua siap melaksanakannya.

“Kurikulum 2013 sebaiknya diimplementasikan secara menyeluruh pada tahun ajaran 2017-2018. Jadi ada waktu dua tahun untuk pembenahan,” kata Darmaningtyas.
‘Jangan buat kurikulum baru’

Sejumlah orang tua murid yang diwawancarai BBC Indonesia mengatakan, materi Kurikulum 2013 sudah cukup ideal, tetapi mereka mengatakan itu terlalu cepat diterapkan, sementara guru, siswa dan orang tua belum siap.

“Tidak terlalu berat dengan kurikulum yang lama… Mungkin pemerintah yang kurang siap. Kalau lebih dimatangkan, saya kira tidak masalah,” kata Dini, ibu dari siswa yang duduk di bangku SMP.
Seorang guru tengah memberikan materi pendidikan di sebuah sekolah dasar di Provinsi Banten.

Linda, warga DKI Jakarta, yang memiliki anak yang sekolah di bangku SMP, juga menganggap Kurikulum 2013 relatif baik, tetapi menurutnya “perlu waktu untuk penyesuaiannya”.

Seorang guru yang mengajar di SD Besuki di kawasan Menteng, Jakpus, Kastolani, juga mengatakan, tidak semua institusi pendidikan siap menerapkan Kurikulum 2013. “Khususnya di sekolah-sekolah yang dipelosok,” katanya.

Meskipun demikian, Kastolani dan dua orang tua siswa itu tadi meminta agar pemerintah tidak membuat kurikulum baru.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengatakan keputusan tentang keberlanjutan Kurikulum 2013 bukan hanya dari pemerintah, tapi diharapkan juga dari masyarakat.

Pemerintah, menurut Kemendikbud Anies Baswedan, ingin mendapatkan kejernihan dalam menilai praktik pelaksanaan kurikulum ini dengan mendapat masukan berbagai piha, termasuk guru dan anak didik serta pakar.

Sumber : http://www.bbc.co.uk/indonesia/berita_indonesia/2014/11/141125_evaluasi_kurikulum_2013

Categories: Pendidikan, Pengetahuan Umum | Tinggalkan komentar

KUIS IPS UNTUK SMP


TTS  IPS

Categories: Pendidikan, Pengetahuan Umum | Tag: , | Tinggalkan komentar

Motivasi Diri


Bersyukur Atas apa Yang Telah diberi

Baca lebih lanjut

Categories: muhasabah, Pendidikan | Tag: , , | Tinggalkan komentar

7 KOMPETENSI PEDAGOGIK GURU SESUAI KURIKULUM 2013


1. Mengenal Karakteristik Peserta Didik:
• Guru dapat mengidentifikasi karakteristik belajar setiap peserta didik di kelasnya,
• Guru memastikan bahwa semua peserta didik mendapatkan kesempatan yang sama untuk berpartisipasi aktif dalam kegiatan pembelajaran,
• Guru dapat mengatur kelas untuk memberikan kesempatan belajar yang sama pada semua peserta didik dengan kelainan fisik dan kemampuan belajar yang berbeda,
• Guru mencoba mengetahui penyebab penyimpangan perilaku peserta didik untuk mencegah agar perilaku tersebut tidak merugikan peserta didik lainnya,
• Guru membantu mengembangkan potensi dan mengatasi kekurangan peserta didik,
• Guru memperhatikan peserta didik dengan kelemahan fisik tertentu agar dapat mengikuti aktivitas pembelajaran, sehingga peserta didik tersebut tidak termarjinalkan (tersisihkan, diolok‐olok, minder, dsb).
Baca lebih lanjut

Categories: Pendidikan | Tag: , | 1 Komentar