PUISIKU


Sepucuk syair teruntuk Agus temanku sejati

Seperti pedang menusuk ke dalam jantung hati.
Berita kematianmu membawaku luruh menjauh mimpi.
Senyum dan tawamu tak akan lagi menghiasi.
Rupa dan wajahmu tak akan lagi datang kembali..
Dewi Malam bersenandung lirih bersama melati.
Semerbak harum mengiringi jiwamu yang telah pergi
Menghadap Sang Khalik, Tuhan Sang Maha Suci.
Do’aku akan menyapamu menjadi sedekah suci.

Wahai Agus Riyanto temanku sejati.
Engkau pergi, ketika daun-daun sedang bersemi.
Tetesan embun yang selalu mewarna pagi dan hari.

Menjelma menjadi tetesan air mata seorang istri.

 

Sedu sedan datang silih berganti.

Memandang jasadmu yang tergolek  di peti mati.
Tak terbendung lagi duka di gudang qalbu ini.
Rinduku akan menjadi puing-puing di bumi pertiwi.

Selamat Jalan Mas Agus Riyanto temanku sejati.

Akan ku ukir namamu sebagai mentari pagi.
Yang akan menghangatkan alam sanubari.
Meski canda dan ceritamu tak lagi kutemui.

Semoga jiwamu mendapat ampunan & ridlo illahi.
Merengguk kenikmatan yg akan engkau alami.
Kelak kita akan bertemu di suatu saat nanti.
Menjadi hamba2 yang merdeka di tanah surga nan abadi.
Dari Temanmu,
pujangga picisan anak negeri

 

Sejenak kutulis puisi sbg hiasan tanpa perhiasan…

Berteduh di tengah sabitnya bulan..
Temaram cahya menyusup diantara lengkung lentera..
Menjauh cakrawala mendekatlah sang insan..
Pada Tuhan, tunduk semua cipta dan jiwa..

Hilir mudik dunia dg sgala urusan..
Tak pernah mati seblum sabit runtuh dari langit mayapada..
Malam terus berlalu menuju singgasana kemuliaan..
Sujudlah hamba, menangislah jiwa jiwa…

 

Sahabatku…

Sesaat kita putar kembali kenangan masa lalu..
Menoreh waktu yg dijalani masa dulu..
Hari itu kita bertemu dlm satu di istana biru..
Menajamkan cita dan mengais ilmu..

Alimin, itulah namamu..
Engkau hadir di antara kawan2 kecilku..
Datang dengan senyuman, lembut mengesan qalbu..
Suaramu khas tak seperti teman baruku..
Gayamu menawan terkadang lugu..

Bersamamu, hidup mudaku penuh liku..
Kadang jengah melihatmu berkata didepanku..
Tpi engkau tak pernah bosan melucu..
Hingga jengahku lari dari dadaku…

Wahai alimin temanku saudaraku..
Dulu kau hamparkan sgala keinginan..
Dulu kau korbankan waktu demi harapan..
Kini, kau tinggalkan kami teman2mu seperjuangan..
Kau pergi jauhhhh tuk menghadap Tuhan…

Semoga jiwamu tenang di alam keabadian..
Semoga jiwamu selalu dlm kesucian..
Sgala noda dan dosa terhapus krn perjuangan..
Dan engkau mendapt tempt kemuliaan di Sisi Tuhan.. Aminnn

 

Ayahku AM Fatwa..

Sesaat ku putar kembali kenangan masa lalu..
Menoreh waktu mengurung kala dulu..
Hari itu kita bertemu dlm satu di istana biru..
Menajamkan cita dan membagi ilmu..

AM Fatwa, itulah namamu..
Engkau hadir di antara kawan2 tuaku..
Datang dengan senyuman, lembut mengesan qalbu..
Suaramu khas tak seperti Amar teman baruku..
Gayamu menawan tak menghilngkan Sunah Nabimu..

Bersamamu, damai serasa menyapaku.
Bagai kembang yg mekar di kala zaman mulai layu..
Meski tak sedikit yg mencibir dan membencimu..
Tpi engkau tak pernah risau dg semua itu..
“Hidup adalah dinamika yg akan menjegal setiap insan yg brnyawa”..
Itulah kata2mu yg menghias di gudang qalbu..

Wahai ayahku bapaku AM Fatwa..
Dulu kau hamparkan sgala keinginan..
Dulu kau korbankan waktu demi harapan..
Kini, kau tinggalkan kami anak anak negeri tumpuan.
Kau tlah pergi jauhhhh menghadap Tuhan…

Semoga jiwamu tenang di alam keabadian..
Semoga jiwamu selalu dlm kesucian..
Sgala noda dan dosa terhapus krn perjuangan..
Dan engkau mendapt tempt kemuliaan di Sisi Tuhan..

Selamat jalan ayahanda tercinta…

Dari Kami Anak anakmu…

 

Hujan dan Kopi

Gemericik hujan tak kunjung reda sampai kini.
Menggelinding bebas menapak ruas malam.
Renyai di kolong cakrawala, lebat tiba di sini.
Lirih terdengar, angin mengurai simfoni alam..

Langit hitam meminjamkan waktu.
Merebahkan senja, menghujani sedekah rimba.
Tetes demi tetes mengalir memecah bisu.
Kopi panas, datanglah beri aku hangatnya cinta…

Dingin menyapa, jalanan mulai sepi.
Kerlipan Kunang-kunang menghias gubuk kecil.
Meminangku dengan sajak di kala rembulan sedang pergi.
Sampai raga ini tak kuasa untuk mengigil.

Wahai Hujan kapankah engkau berhenti.?
Karena kopiku sebentar lagi akan habis….

(rintik hujan bersyair di malam sepi Desember 2017)

Teh atau Kopi..?

Sorepun berajak pergi saat senja mulai merayu waktu.
Lonceng malam samar2 kian terdengar meski langit berselendang biru.
Di ujung negeri, kaki-kaki kegelapan beranjak mendekat.
Sementara jiwa masih enggan memilih antara kau dan dia.

Kau adalah Tuan Pagi yg selalu menyelimuti para petani
Sedangkan dia, hanyalh juwita yg selalu menemani takkala
malam datang memberi.
Dan aku adalah seorang gembala yng selama ini menjadi
Budakmu dan dia.
Tapi aku bingung harus memilih antara Kau
Ataukah Dia…

( Balada kecil sang gembala di sore desember 2017

 

Nyanyian kopi

Malam berjunta genta istana..
Meradang sungguh rajawali si burung angkasa..
Turunlah Tuan sejenak mengubur rasa.
Kopi ini akan memberi demi cinta..

Hitam bukanlah warna sejatinya.
Dia hnya tumbuh kala panas membunuhnya.
Biarkan kopi bernyanyi untuk sementara..
Menutup tabir menyeduh senja..

 

Kopi lendot..

Saat bulan tersenyum di atas kuburan.
Dan kelelawar keluar menjeput mangsa sambil tertawa.
Sunyi yg hadir, terlena oleh jeritan menggoda.
Dunia mkin terusik oleh kebejatan sang Rahwana..

Kelap kelip lampu, menyuburkan..
Lambaian kelelawar makin menidurkan.
Menghadirkan kopi lendot di antara para hamba Tuhan..
Kemulian tak lgi direbutkan..
Yg ada pembajak keimanan..
Kopi lendot memang ramuan insan yg merindukan syetan…

 

Kopi hitam..

Tak ada sempurna dlm sifat insan.
Di balik sempurna ada kekurangan..
Di atas kekurangan pasti ada kelebihan..
Itulah kehidupan yg ada di setiap zaman.

Jgnlh engkau mencari keuntungn diatas kesempurnaan.
Jgn pula Tuan menghamba atas kekurangan..
Biarkan apa yg Tuhan beri menjadi satu kenikmatan.
Karena hidup bukan utk tahta dan jabatan, tapi utk kematian..

Wahai para “kuli” dan “budak” pendidikan..
Berikanlah namamu pada satu nisan..
Harumkan jiwamu pada sekumpulan malaikat2 Tuhan..
Jangan terbius oleh virus ujub dan kesombongan..
Cairkanlah hati dan tetesi jiwa dg tangisan.
Karena “kopi hitam” sudah menepi di meja makan…

 

Kopi sang Raja

Tk usah heran wnita mjadi pria.
Sebab Dunia kini milik “Sang Puan”.
Tak usah heran orng bodoh berkuasa.
Krn ilmu agama terbang ke awan..

Lihatlah langit tlah melebarkn gelap..
Menggulung cahaya menarilah sunyi..
Sejenak sajak sang pujangga merayap..
Membunuh sepi mengharumkan kopi..

Hai, raja. Kopimu sudah menghitam..
Jgnlh engkau suguhkan topeng di majlis para penghuni..
Jgn engkau kibarkan panji kehebatan di dunia ini.
Sungguh..hamba yg paling hebat adalah yg sll ingat mati..

 

Aku dan Guruku

11 kali kurikulum hadir menyapa Indonesia.
Tak pernah ada evaluasi di atas praduga..

Tak sedikit para ahli berkata dan beretorika.

Berdalih demi kemajuan dan cita Bangsa..

 

Aku bukan budak, yang di perintah tanpa harta dan tahta.

Aku bukan pembantu yg diperintah  tanpa mahkota.

Aku adalah Guru yng terpanggil karena jiwa.
Bukan pelaksana kurikulum yang membabi buta..

Tuntutan dan regulasi bertebaran.
Workshop, seminar, diklat dll. dihamparkan.
Waktu bersama anak didik terpksa dikorbankan.
Belanja negarapun terurai penyempurnaan.
Apakah semua itu demi cita-cita negara ?
Apakah semua itu penyempurnaan masa ?
Sementara jeritan Guru hanya menjadi hiasan belaka.
Mau dibawa kemana anak negeri tuk mengarungi samudera ??

Perahu negeri makin jauh berlayar memecah semua riak..
Tapi nasib “mereka” bagaikan di ujung tombak..
Sertifikasi seakan menjadi simbol kemegahan para birokrat..
Hingga jiwa-jiwa harus rela untuk terpasung dan terikat….

PTK

Namamu begitu singkat, padat tanpa sekat.
Tak kenal lelah kau disebut setiap saat.
Pagi siang malam kau terus menggeliat.
Tak ayal statusmu sungguh terhormat..

Wangi melati yang mekar di sepanjang hari.
Tak mampu mengalahkan Namamu sendiri.
Kau culik waktu di saat “sibuk” menyapa hati.
Tak bosan meneriakan kata agung profesi.

Kau memang pintar menguasai jalan.
Menarik kesempatan menjual harapan.
Mengubur kedunguan mengikis kebodohan.
Tapi itu hanya topeng topeng kemunafikan…

( Sore kecil di gubug sunyi medio desember 2017 )

 

Sekuntum Melati.

Ketika putih harum memancarkn rupa.
Menghiaslh pagi menaburkn gelora.
Oh melati,wangimu melebur mengikis rasa.
Mengusir pagi,engkau jemput gulita..

Bersiulah burung gagak di mlm hari.
Tertawalh kelelawar memandangmu kini.
Dan melati terdiam trkena percikan api.
Datanglh mawar menjemput pesona diri..

Ketika rembulan menjamah langit bumi.
Berlayar mlm, menuju pulau mimpi.
Sang Melati layu sebelum pergi.
Pulanglah..wahai senyum Mentari..

Dulu, mlati tumbuh sbur di taman.
Smua kumbang sll brnyanyi dihadapan.
Kini, keadaan tak bersanding harapan.
Krn “ulat” tlah mengukur badan..

(Jeritan kecil Sang Gembala di Ladang Petani di akhir thun)

 

Nyanyian Sunyi

Kau bernyanyi, sepi di hati..
Lantang suaramu menorehkan panji2 suci..
Dari barat sampai ke timur, smua menari..
Gurunpun memaksa tumbuhkan permadani..

Kau bersenandung, sunyi bertahta di sanubari.
Hilir mudik cerita terpampang, namun berjubah ilusi..
Mungkin roh Sang Drupadi telah kembali..
Meramaikan Alam, meramu mimpi mimpi..

Engkau banggakan lagu2 simfoni..
Lembut menyejukan kekal tak abadi..
Semoga dendang malammu tak sampai pagi..
Karena Si Gembala sudah lelah di istana mawar melati…

( sembilu si gembala di ujung thn )

 

Syair Mlm

Harum tapi tak mewangi..
Harum tapi penuh duri..
Harum tapi tk berisi.
Harum memang, namun tak berarti..

Indah dari sisi.
Megah mengitari.
Sejuk menghantui.
Namun itu hny ilusi..

Pintar basa basi..
Pandai mengolah emosi..
Piawai menerbitkn sgala kondisi..
Ternyata hny Tong berbunyi tak berisi..

 

Mawar Berduri

Bersuara lantang di istana sang raja..
Bergaya ibu suri yg memainkan tahta..
Pantaskah si bunguk mendapatkan mahkota ?
Padahal alam sudah memberinya rasa..

Sang Raja hanya tersenyum..
Para punggawapun larut dlm senyum..
Melihat tarian lidah trus dimainkan sang pendulum..
Sampai datang melati menawarkn wangi nan harum..

Dg berjubah merah laksana pemberani..
Menggulung rasa cukup dg satu duri..
Pagi, siang dan mlm ditusuk berkali kali..
Pantaslah alam menyebutnya mawar berduri..

( celoteh lembut si gembala tanpa sapi di tepian kali pemali )

 

Aku bukan Khairil Anwar..

Saat diponegoro memegang pedang dikanan dan keris di kiri..
Aku hny memegang satu dahi karena sapiku telah pergi..
Saat khairil anwar dinobatkn menjdi seniman sejati, Aku dinobatkn menjdi seniman pinggir kali..
Ketika Khairil Anwar mencari Aryati, Aku trpksa mencari xxtri, walau aku dan khairil gemar menyepi…

Aku bknlah seniman sejati, krn hidupku bukan dari seni..
Aku hanyalah serpihan hidup yg terlahir dizaman ini..
Zaman yg harus Aku jalani dg mjdi gembala tanpa sapi..
Namun Aku tk ingin spt khairil anwar yg hidup sendiri smpai mati..

Aku adalah lukisan yg trpampang dlm dinding kehidupan..
Tak ada keinginan mjdikan pagi berselimut kegelapan..
Aku selalu membiarkan alam berkicau di atas kedamaian..
Aku adalah hamba yang ingin hidup 1002 tahun lagi…

 

 

Iklan

%d blogger menyukai ini: